Waspada El Niño 2026, BMKG Prediksi Kemarau Panjang dan Cuaca Lebih Panas
NEWS

Waspada El Niño 2026, BMKG Prediksi Kemarau Panjang dan Cuaca Lebih Panas

BMKG memprediksi kedatangan El Niño pada bulan Juni, yang berpotensi sebabkan kebakaran hutan dan kekeringan lahan pertanian.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa fenomena El Niño mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan pada Juni 2026 dan berpotensi menyebabkan musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan biasanya.

Sumber: BMKG

Melalui Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, BMKG memperkirakan intensitas El Niño tahun ini berada pada kategori lemah hingga sedang, namun dampaknya tetap perlu diwaspadai karena dapat mengurangi curah hujan secara signifikan di berbagai daerah. 

"Dengan peluang intensitas El Nino mencapai kategori Moderat sebesar 98% saat ini peluangnya. Dan mencapai kategori Kuat sebesar 62% peluangnya saat ini."

Menurut BMKG, kondisi ini diperkirakan mulai terasa dari bulan Juni dan dapat mencapai puncaknya pada periode Agustus hingga Oktober. Beberapa wilayah yang biasanya masih menerima hujan sporadis saat kemarau berpotensi mengalami kondisi yang jauh lebih kering dari rata-rata.

El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada pola cuaca global. Bagi Indonesia, fenomena ini umumnya menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dan panas. 

Dampak yang paling dikhawatirkan adalah meningkatnya risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, terganggunya produksi sektor pertanian, serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG mencatat bahwa kondisi kering yang berkepanjangan dapat menaikkan peluang kemunculan titik panas di berbagai wilayah, terutama di Sumatra dan Kalimantan.

Antisipasi Dari Berbagai Sektor

Menghadapi ancaman El Niño, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah telah mulai menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Kementerian Pertanian mendorong petani mempercepat masa tanam sebelum puncak kemarau, serta memanfaatkan sistem irigasi secara lebih efisien. Pemerintah juga mendorong penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan untuk menjaga produktivitas pangan nasional. 

Pada sektor antisipasi bencana, BMKG dan berbagai instansi terkait meningkatkan pemantauan titik panas serta memperkuat sistem peringatan dini karhutla. Pemerintah daerah juga diminta menyiapkan cadangan air, memastikan kesiapan infrastruktur irigasi, serta mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan air secara bijak selama musim kemarau. 

BMKG menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik, tetapi perlu meningkatkan kewaspadaan. Lembaga tersebut memohon agar pemerintah daerah, sektor pertanian, pelaku usaha, dan masyarakat umum terus memantau informasi cuaca dan iklim terbaru agar dapat mengambil langkah antisipatif sedini mungkin.

Indonesia bukan hanya negara yang terdampak oleh fenomena ini. Sejumlah lembaga iklim internasional juga memperingatkan bahwa El Niño yang berkembang pada 2026 berpotensi menjadi salah satu faktor pemicu cuaca ekstrem di berbagai negara Asia. 

 

Sumber: BMKG, Media Indonesia