Lawan Pinjol, Garda Srikandi Malahayati Akan Menggelar  Festival Melukis 50 Meter di Hari Lahir Pancasila
NEWS

Lawan Pinjol, Garda Srikandi Malahayati Akan Menggelar Festival Melukis 50 Meter di Hari Lahir Pancasila

Ruang ekspresi dan penyembuhan sosial melalui seni bagi masyarakat yang terdampak maupun memiliki keresahan terhadap maraknya judol, pinjol ilegal, dan investasi bodong.

Jakarta Selatan — Maraknya judi online (judol), pinjaman online ilegal (pinjol), hingga investasi ilegal kini tidak hanya menjadi persoalan hukum, tetapi juga persoalan sosial dan kemanusiaan. Banyak masyarakat mengalami tekanan ekonomi, kehilangan keluarga, gangguan mental, hingga terjebak dalam lingkaran kecanduan dan utang akibat praktik digital ilegal tersebut.

Fenomena itu dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yang menjunjung kemanusiaan, keadilan sosial, dan kesejahteraan bersama. Karena itu, momentum Hari Lahir Pancasila dianggap penting untuk mengingatkan kembali masyarakat agar tidak kehilangan kesadaran sosial di tengah derasnya tekanan zaman digital.

Berangkat dari keresahan tersebut, DPP Ormas Garda Srikandi Malahayati akan menggelar kegiatan bertajuk “Pendar Daya Negeri – Melukis di Atas Kanvas 50 Meter” pada Minggu, 31 Mei 2026 di Warkopien, Mampang Prapatan VIII, Jakarta Selatan.


Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi dan penyembuhan sosial melalui seni bagi masyarakat yang terdampak maupun memiliki keresahan terhadap maraknya judol, pinjol ilegal, dan investasi bodong. Seni dipilih sebagai medium untuk melawan, mengingatkan, sekaligus memulihkan kesadaran diri secara kolektif.

Ketua pelaksana kegiatan, Sharoji, mengatakan bahwa banyak masyarakat sebenarnya ingin bersuara, namun tidak memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan pengalaman dan keresahan mereka.

“Kami ingin menjadikan seni sebagai wadah bagi masyarakat untuk melawan secara positif. Lewat tulisan, warna, puisi, dan ekspresi, masyarakat bisa mengingatkan dirinya sendiri dan orang lain tentang bahaya judol, pinjol ilegal, dan investasi bodong yang hari ini merusak kehidupan banyak orang,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat akan diajak melukis dan menulis bersama di atas gulungan kanvas sepanjang 50 meter bertajuk “Lontar Suara Rakyat”. Setiap goresan menjadi simbol suara rakyat tentang harapan, luka sosial, kritik, dan semangat untuk bangkit dari tekanan hidup.


Tidak hanya melukis, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan lain sebagai ruang bersuara masyarakat, seperti puisi dan orasi kemanusiaan, live art dan healing space, musik akustik reflektif, hingga doa bersama untuk Indonesia.

 

Panitia menilai bahwa pendekatan seni dan budaya memiliki kekuatan emosional yang lebih dekat dengan masyarakat dibanding sekadar imbauan formal. Dengan pendekatan tersebut, pesan sosial diharapkan lebih mudah diterima, terutama oleh generasi muda yang menjadi kelompok paling rentan terhadap pengaruh judi online dan praktik keuangan ilegal.

 

Sebagai organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam isu sosial dan kemanusiaan, Garda Srikandi Malahayati ingin menghadirkan peringatan Hari Lahir Pancasila yang lebih membumi dan menyentuh realitas masyarakat.

 

“Pancasila harus hadir dalam keberpihakan terhadap rakyat. Hari ini banyak masyarakat kehilangan harapan karena tekanan ekonomi digital ilegal. Maka kami ingin menghadirkan ruang yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menyembuhkan dan menyadarkan,” tambah Sharoji.

Kegiatan ini terbuka untuk umum dan menargetkan sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, komunitas seni, aktivis sosial, hingga relawan kemanusiaan.

Dengan slogan “Pulihkan Jiwa Rakyat, Hidupkan Daya Negeri”, festival ini diharapkan menjadi pengingat bahwa melawan kerusakan sosial tidak selalu harus dengan kemarahan, tetapi juga bisa melalui seni, empati, dan keberanian untuk saling menguatkan sebagai sesama anak bangsa.