CULTURE
Gen Z, Yuk Upgrade Playlist! Musik Tradisi Ternyata Nggak Sekuno yang Lo Kira
Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Bogor 2026 “Sangitaloka” mengajak Gen Z melihat musik tradisi dari perspektif ya...
Selama setahun terakhir, gua lumayan sering kenalan sama teman-teman baru yang rata-rata Gen Z. Kaya biasa, abis kenalan pasti saling tukeran akun Instagram. Nah, yang bikin gua penasaran, kenapa ya banyak akun Instagram Gen Z yang feed-nya kosong? Ada yang cuma satu atau dua postingan, bahkan ada yang benar-benar 0 post. Yang bikin gua makin bingung, kalau memang gak pernah posting, terus tujuan bikin akun Instagram buat apa sih?
Selama setahun terakhir, gua lumayan sering kenalan sama teman-teman baru yang rata-rata Gen Z. Kaya biasa, abis kenalan pasti saling tukeran akun Instagram.
Nah, yang bikin gua penasaran, kenapa ya banyak akun Instagram Gen Z yang feed-nya kosong? Ada yang cuma satu atau dua postingan, bahkan ada yang benar-benar 0 post.
Yang bikin gua makin bingung, kalau memang gak pernah posting, terus tujuan bikin akun Instagram buat apa sih?
Awalnya gua sempat mikir, apa mereka udah mulai bosan sama media sosial?
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin bukan karena bosan. Mungkin mereka justru semakin hati-hati sebelum share sesuatu ke publik.
Dulu, media sosial itu rasanya kaya album foto, buku harian digital, dan tempat berbagi cerita. Mau upload foto makanan, nongkrong, atau liburan ya tinggal upload aja.
Sekarang rasanya beda.
Media sosial berubah menjadi portofolio, personal branding, bahkan tempat orang di-judge. Setiap postingan kaya jadi pernyataan tentang siapa diri kita.
Dulu upload foto makanan artinya cuma, "Lagi makan nih."
Sekarang jadi macam-macam artinya. Dibilang flexing lah, cari validasi, pencitraan, sok sibuk, sok bahagia, atau haus perhatian.
Padahal mungkin orang itu cuma lagi makan.
Artinya, beban psikologis sebelum pencet tombol Post jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu. Bukan karena proses upload-nya yang sulit, tapi karena kita tahu pasti selalu ada orang yang ngasih makna atas apa pun yang kita unggah.
Lalu muncul fenomena-fenomena baru: Close Friends, second account, akun private, sampai kebiasaan saling kirim meme atau Reels lewat DM.
Dan ada satu perubahan yang menurut gua paling kerasa.
Sekarang semua diposting di Story.
Momen yang dulu "layak masuk feed" sekarang cukup bertahan 24 jam aja. Foto lagi ngopi, jalan-jalan, konser, atau kumpul bareng teman lebih sering muncul di Story daripada jadi postingan permanen di feed.
Mungkin karena Story terasa lebih santai. Gak perlu estetik, gak perlu dipikirin bakal cocok sama feed, dan yang paling penting, besok juga hilang. Tekanannya jauh lebih kecil dibanding posting sesuatu yang akan terus ada di profil.
Menurut gua, Gen Z bukan gak mau dilihat.
Mereka cuma memilih siapa yang boleh lihat, dan berapa lama mereka ingin terlihat.
Ironisnya, semakin banyak Gen Z yang aktif di Instagram, justru semakin sedikit yang benar-benar tampil di feed. Feed jadi sepi, sementara Story dan DM makin ramai. Timeline kerasa ngebosenin, tapi percakapan justru pindah ke ruang yang lebih privat.
Mereka bukan berhenti bersosialisasi.
Mereka cuma pindah ke tempat yang kerasa lebih aman.
Jadi mungkin masalahnya bukan karena Gen Z makin tertutup.
Mungkin media sosial yang udah berubah. Dari ruang untuk berbagi jadi ruang untuk di-judge. Dan ketika setiap postingan bisa memunculkan penilaian, komentar, bahkan prasangka, milih Story yang hilang dalam 24 jam kerasa jauh lebih nyaman daripada mencet tombol Post di feed.