CULTURE
Serius! Ada Orang Indonesia yang Namanya Doraemon hingga Luffy
Fenomena unik di Indonesia: sejumlah orang menggunakan nama yang terinspirasi dari karakter anime Jepang, mulai dari Nar...
Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Bogor 2026 “Sangitaloka” mengajak Gen Z melihat musik tradisi dari perspektif yang lebih dekat dan relevan, sekaligus menjadi kesempatan untuk “upgrade playlist” dengan mengenal angklung, calung, karinding, suling, celempung, dan gamelan. Digelar pada Sabtu, 3 Oktober 2026 di Stadion Pakansari, Cibinong, festival ini menghadirkan seminar kebudayaan serta pergelaran yang menampilkan sejumlah seniman lokal dan regional, termasuk Rita Tila. FMTI Bogor juga menjadi bagian dari penyelenggaraan serentak di 10 kota/kabupaten Indonesia untuk mempertemukan riset, praktik seni, publik, dan generasi masa kini dalam upaya merawat musik tradisi.
BOGOR — Kalau isi playlist lo setiap hari cuma lagu yang lagi viral di TikTok, trending di Spotify, atau berseliweran di FYP, mungkin sudah waktunya upgrade. Bukan berarti harus berhenti mendengarkan musik favorit, tapi sesekali coba dengarkan sesuatu yang mungkin selama ini cuma lo kenal dari pelajaran sekolah” musik tradisi”, Kedengarannya mungkin kurang relate. Tapi tunggu dulu.
Angklung, calung, karinding, suling, celempung, sampai gamelan punya karakter bunyi yang nggak bisa begitu saja digantikan instrumen modern. Di balik bunyinya ada cerita, kebiasaan masyarakat, pengetahuan, dan perjalanan panjang sebuah budaya.
Jadi, musik tradisi bukan sekadar soal “melestarikan budaya”. Ada pengalaman mendengarkan yang bisa ditemukan kalau kita mau berhenti sebentar dari algoritma playlist dan mencoba sesuatu yang berbeda.
Kesempatan itu bisa ditemukan di Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Bogor 2026 dengan tajuk “Sangitaloka”.
Festival ini akan digelar pada Sabtu, 3 Oktober 2026, di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Indonesia Raya berkolaborasi dengan Lembaga Setyo Langgen Budoyo dan Yayasan Halimun Salaka Indonesia dalam penyelenggaraan festival tersebut.


( Sumber: pinterest)
Mengusung tema “Bambu dan Bunyi Ritus”, FMTI Bogor 2026 dirancang sebagai ruang temu antara riset akademik, praktik seni, dan publik. Fokusnya adalah merawat kembali warisan musik bambu Sunda, termasuk angklung, calung, karinding, suling, hingga celempung yang menghadapi tantangan di tengah arus modernisasi.
Bukan Festival yang Cuma Datang, Foto, Pulang
Nama “Sangitaloka” berasal dari gabungan kata sangita yang berarti nyanyian atau bunyi bermakna dan loka yang berarti dunia atau ruang.
Konsep tersebut diterjemahkan ke dalam dua agenda utama, yakni seminar kebudayaan dan pergelaran musik tradisi, yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Bogor.
Seminarnya berlangsung di Aula Serbaguna 1, Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor. Forum ini menempatkan riset sebagai fondasi pelestarian budaya, Tiga narasumber akan hadir, yaitu Ilham Nurwansyah (EFEO Jakarta) yang membahas jejak filologis naskah kuno, Hudaepah (ISBI Bandung) yang mengulas konservasi tradisi melalui jalur pendidikan, serta Dody Satya Ekagustdiman (Praktisi Musik) yang membahas tantangan pengembangan musik tradisi di lapangan.
Diskusi akan dipandu Muhamad Alnoza sebagai moderator. Forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik nyata dalam pelestarian musik tradisi.
Malamnya, Musik Tradisi Ambil Alih Panggung
Kalau siangnya diisi diskusi, malam hari waktunya menikmati bunyi secara langsung, Pergelaran musik tradisi akan berlangsung di VVIP Barat Stadion Pakansari dengan menghadirkan sejumlah seniman lokal dan regional, di antaranya Layung Jagat, Bilik Jasinga, Angklung Gubrag, Gamelan Cibatokan, Gamelan Ajeng (Depok), Saung Kalingga, dan Bajidoran Abot (Bandung).
Ada pula Rita Tila, penyanyi sekaligus pesinden, yang akan hadir sebagai bintang tamu, Selain pertunjukan, panitia juga akan memberikan apresiasi kepada para seniman, budayawan, dan pelestari musik tradisi yang konsisten menjaga serta merawat warisan budaya lokal.
Kenapa Harus di Bogor?
Bogor punya alasan tersendiri untuk menjadi salah satu lokasi festival, Wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai jalur pengembaraan tokoh legendaris Bujangga Manik, sekaligus memiliki komunitas pewaris musik bambu, FMTI Bogor 2026 juga merupakan bagian dari penyelenggaraan FMTI secara serentak di 10 titik kota/kabupaten di Indonesia. Gerakan ini menjadi ruang kolektif untuk menunjukkan bahwa musik tradisi tetap hidup dan dapat berdampingan dengan perkembangan zaman dan mungkin, di sinilah poin menariknya buat Gen Z.
Budaya nggak harus selalu dikemas serius. Musik tradisi juga bisa ditemukan, didengar, dipelajari, bahkan dinikmati dengan cara yang lebih dekat dengan generasi hari ini, Jadi kalau playlist lo sudah mulai terasa repetitif, nggak ada salahnya mencoba track baru yang usianya jauh lebih panjang daripada tren yang muncul di FYP hari ini, Upgrade playlist, Upgrade pengalaman, Kenalan sama musik tradisi.