SPORT
Persija Jakarta Menang Dramatis Atas Persib Bandung Berkat Gol Menit Akhir
Persija Jakarta meraih kemenangan dramatis 2-1 atas Persib Bandung dalam laga persaingan klasik Super League 2026/2027 d...
WASHINGTON DC – Polemik penolakan masuk terhadap wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, menjelang Piala Dunia 2026 mendapat perhatian langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kasus tersebut memicu perdebatan mengenai kebijakan imigrasi AS dan dampaknya terhadap penyelenggaraan ajang olahraga terbesar di dunia
Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tetap mengedepankan aspek keamanan dalam proses pemeriksaan warga negara asing yang akan memasuki wilayah Amerika Serikat, termasuk mereka yang terlibat dalam penyelenggaraan Piala Dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi polemik penolakan masuk wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, menjelang Piala Dunia 2026.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Putih, Rabu (10/6/2026), menyusul munculnya kekhawatiran sejumlah pihak terkait akses visa bagi peserta, ofisial, maupun pihak pendukung turnamen.
“Kami bekerja secara hati-hati untuk memastikan bahwa orang-orang yang masuk ke negara kami telah melalui proses pemeriksaan yang tepat,” ujar Trump.
Sorotan publik mengarah pada kasus Omar Abdulkadir Artan, wasit asal Somalia yang sebelumnya telah masuk dalam daftar perangkat pertandingan FIFA untuk Piala Dunia 2026. Meski telah mengantongi visa perjalanan, Artan tidak diizinkan memasuki Amerika Serikat setelah tiba di Bandara Internasional Miami pada 7 Juni lalu.
Otoritas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (CBP) menyatakan keputusan tersebut diambil setelah dilakukan pemeriksaan tambahan yang berkaitan dengan proses verifikasi keamanan.
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS menyebut terdapat pertimbangan keamanan yang membuat Artan tidak memenuhi syarat untuk masuk ke negara tersebut. Namun hingga kini, pemerintah AS belum mempublikasikan rincian maupun bukti yang mendasari keputusan tersebut.
Di sisi lain, FIFA menegaskan bahwa urusan keimigrasian sepenuhnya berada di bawah kewenangan negara tuan rumah. Federasi sepak bola dunia itu menyatakan tidak memiliki kapasitas untuk mengubah atau membatalkan keputusan yang telah ditetapkan otoritas Amerika Serikat.
Kasus ini menjadi perhatian karena Artan sebelumnya berpeluang mencatat sejarah sebagai salah satu wasit asal Somalia yang tampil pada putaran final Piala Dunia.
Pemerintah Somalia menyampaikan penyesalan atas insiden tersebut dan mengaku telah melakukan komunikasi dengan pihak terkait. Namun langkah diplomatik yang ditempuh tidak mengubah keputusan yang telah ditetapkan pemerintah Amerika Serikat.
Setelah kembali ke Mogadishu, Artan mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan sejumlah pejabat negara. Dalam keterangannya, ia mengaku kecewa, tetapi tetap optimistis dapat mewujudkan impiannya tampil pada edisi Piala Dunia mendatang.
“Saya akan terus berusaha dan berharap bisa menjadi bagian dari Piala Dunia berikutnya. Saya ingin masyarakat Somalia tetap percaya diri dan tidak kehilangan harapan,” kata Artan.

Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan. (Foto: Dokumentasi/FIFA)
Tidak hanya memicu reaksi dari Somalia, kasus tersebut juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku sepak bola internasional. Sejumlah pihak menilai kebijakan imigrasi yang ketat berpotensi memengaruhi suasana inklusif yang selama ini menjadi ciri khas penyelenggaraan Piala Dunia.
Penyerang tim nasional Iran, Mehdi Taremi, mengaku merasakan atmosfer yang berbeda dibandingkan tiga Piala Dunia yang pernah diikutinya sebelumnya. Menurutnya, ketegangan yang muncul akibat persoalan visa dan kebijakan perbatasan turut memengaruhi nuansa global yang biasanya melekat pada turnamen tersebut.
Dengan kurang dari satu tahun menuju pembukaan Piala Dunia 2026, isu visa dan akses masuk ke Amerika Serikat diperkirakan akan terus menjadi perhatian. Bagi banyak pihak, kelancaran mobilitas pemain, ofisial, wasit, dan pendukung dari berbagai negara menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan sukses tidaknya penyelenggaraan turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola dunia tersebut.