Korea Selatan Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Hong Myung-bo Dihujani Cemoohan
SPORT

Korea Selatan Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Hong Myung-bo Dihujani Cemoohan

Korea Selatan tersingkir lebih awal dari Piala Dunia 2026 setelah gagal lolos dari fase grup. Kekalahan tersebut memicu kemarahan besar di dalam negeri, membuat pelatih Hong Myung-bo mengundurkan diri, menerima ancaman pembunuhan, sementara tim nasional disambut cemoohan dan pengamanan ketat saat kembali ke Seoul.

Kegagalan tim nasional Korea Selatan di Piala Dunia 2026 memicu gelombang kemarahan besar di dalam negeri. Tidak hanya para suporter yang meluapkan kekecewaan, tekanan juga datang dari tokoh politik, selebritas, hingga dunia usaha. Pelatih kepala Hong Myung-bo menjadi sasaran utama kritik setelah tim gagal melaju dari fase grup.

Sumber: AFP

Korea Selatan sebenarnya membuka turnamen dengan kemenangan 2-1 atas Republik Ceko. Namun, dua kekalahan beruntun dari Meksiko dan Afrika Selatan membuat mereka tersingkir, bahkan gagal masuk sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik. Hasil tersebut mengakhiri harapan negara yang pernah mencapai semifinal Piala Dunia 2002 untuk kembali bersinar di panggung dunia.

Usai kekalahan itu, Hong Myung-bo langsung mengumumkan pengunduran dirinya. Dalam pernyataannya, ia meminta maaf kepada masyarakat Korea Selatan dan mengakui seluruh tanggung jawab atas kegagalan tim.

Namun, pengunduran diri tersebut belum mampu meredam kemarahan publik. Saat tim bersiap pulang ke Seoul, pihak kepolisian meningkatkan pengamanan di bandara setelah muncul ancaman pembunuhan terhadap Hong melalui media sosial. Pengamanan ekstra disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan tindakan anarkistis saat rombongan tim nasional tiba di tanah air.

Kemarahan suporter juga menyebar ke berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Sejumlah restoran dilaporkan memasang pemberitahuan yang melarang staf federasi sepak bola Korea Selatan makan di tempat mereka. Beberapa pemilik usaha bahkan menyatakan tidak ingin memberikan pelayanan kepada pejabat federasi karena menganggap mereka bertanggung jawab atas kemerosotan prestasi sepak bola nasional. Di media sosial, seruan reformasi total terhadap federasi sepak bola Korea Selatan juga menjadi topik yang ramai diperbincangkan.

Sorotan tajam turut diarahkan pada keputusan Hong yang mencadangkan kapten tim, Son Heung-min, saat laga penentuan melawan Afrika Selatan. Keputusan tersebut dianggap sebagai salah satu faktor yang memperburuk peluang Korea Selatan untuk lolos ke babak gugur. Sebelum resmi tersingkir, petisi daring yang menuntut pemecatan Hong bahkan telah mengumpulkan banyak dukungan dari para suporter.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, ikut mengkritik keras kondisi sepak bola nasional. Ia menilai kegagalan tersebut mencerminkan buruknya tata kelola dan proses penunjukan pelatih, serta menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap federasi sepak bola negara itu.

Di tengah situasi tersebut, Son Heung-min menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung. Sang kapten mengaku memahami kekecewaan publik dan meminta masyarakat tetap memberikan dukungan kepada para pemain, meski hasil yang diraih jauh dari harapan. Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus membela tim nasional meskipun masa depannya sempat dipertanyakan setelah turnamen berakhir.

 

Sumber: South China Morning Post, Gulf News